18 December 2016

Sebenarnya saya mau membuat tulisan ini menjadi tulisan yang megah, indah dan penuh makna untuk beliau, tapi berhubung yang nulis adalah cuma penulis payah seperti saya, mungkin itu akan sulit diwujudkan.

Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu saya, biasa saya panggil mama, yang meninggal tanggal 5 Juli 2016, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Beliau lahir pada tanggal 11 November 1963 di Kota Palembang dari Ayah seorang pedagang dan Ibu seorang guru. Namun kedua orang tuanya berpisah saat usia mama masih sangat muda, sehingga pada usia 2 atau 3 tahun ibunya menikah kembali dengan seorang tukang masak (koki) masakan Padang. Beberapa tahun kemudian, saat ibunya sedang mengandung anak ke-3 dari Ayah tirinya, mereka sekeluarga pindah ke Surabaya. Ayah tirinya kemudian menjadi tukang masak no. 1 di rumah makan masakan Padang ternama di Surabaya pada masa itu.

Mama kemudian tumbuh remaja bersama 2 kakak laki-laki yang dibawa Ayah tirinya dari pernikahan sebelumnya dan 3 orang adik, 2 perempuan dan 1 laki-laki, dari pernikahan ibu kandung dan Ayah tirinya.

Menginjak kelas 3 SMA beliau kemudian memutuskan untuk menikah dengan gurunya sewaktu SMP dulu, orang inilah yang kemudian menjadi bapak saya, dan aku memanggilnya papa.

Berbeda dari prasangkaan banyak orang, mama menikah di usia yang sangat muda, bahkan saat masih sekolah, bukanlah karena hamil duluan atau dipaksa orang tua macam Siti Nurbaya. Namun apa alasan pastinya saya juga kurang tahu, kemungkinan besar adalah karena mama ingin segera dapat hidup sendiri tanpa merepotkan orang tua lagi.

Iya, mama adalah orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Mungkin itu sebabnya yang kemudian juga membuat beliau menjadi orang yang serba bisa. Beliau orang paling serba bisa yang saya kenal. Beliau bisa masak aneka masakan, mulai dari masakan padang, masakan jawa dan aneka masakan nusantara dan masakan untuk acara-acara spesial lainnya. Beliau juga bisa menjahit, dulu setiap kali lebaran saya akan dijahitkan beberapa baju yang kadang lucu kadang eksentrik.

Kehidupan mama memang tidak se-menderita orang-orang yang biasa muncul di acara reality show, tapi bisa saya katakan kehidupan mama penuh dengan pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. 

Mama di mata saya, adalah orang yang sabar. Beliau juga lucu dan berpandangan terbuka.

Kepergian beliau adalah suatu kehilangan besar, mungkin yang terbesar sepanjang hidup saya sampai saat ini.

Satu hal yang paling menyesakkan dari kepergian beliau adalah bahwa saya belum cukup melakukan banyak hal untuk membahagiakan beliau, malah mungkin justru saya banyak membebani dan menyakiti beliau, baik fisik maupun pikiran.  

Seusai pemakaman, ada seseorang yang mencoba menghibur dengan mengatakan, sudah jangan sedih dan ditangisi paling tidak kan kalian sudah merawatnya saat sakitnya sebelum meninggal. Dan saya seperti pengen nyolot, merawat apaan semua itu masih belum cukup baik dibanding perawatan yang beliau berikan kepada kami! Bagaimana kami bisa berhenti bersedih dan menganggap semuanya seakan sudah impas. Tidak. Tidak bisa. Bahkan sampai terakhir sebelum beliau jatuh sakit, beliau masih menyuapi saya sarapan dengan telaten karena saya buru-buru, sedang saya menyuapi beliau seringkali dengan ogah-ogahan saat beliau sakit. Saya tidak terima!

Semalam saya mengganti sprei kasur tempat kami biasanya tidur bersama, baru saya sadari, ternyata sprei dan sarung bantal yang kami miliki sudah sangat usang, ternyata memberikan kebahagiaan sesederhana membelikan sprei baru saat beliau masih hidup pun saya tidak mampu.

Lalu saya teringat mimpi yang saya dapat beberapa waktu sebelum beliau meninggal. Dalam mimpi itu beliau meminta saya untuk mengantarkannya pulang, dan saya seperti biasa selalu ogah-ogahan dengan alasan masih capek. Sial, bahkan dalam mimpi pun saya gagal membahagiakan beliau.

Dasar bodoh kamu yen.

Ternyata benar daripada disebut tulisan yang megah dan penuh makna, entry ini jadi lebih seperti catatan penyesalan saya. Sekarang satu-satunya keinginan saya untuk beliau adalah agar beliau dapat bahagia setelah kematiannya. Bahagia sebahagia-bahagianya. Bila perlu akan saya bagi jatah bahagia saya kelak jika saya memilikinya, karena mungkin itupun masih akan kurang.

Kau tahu, yang paling menakutkan di dunia ini bukanlah kematian, melainkan penyesalan.

13 September 2016

Selama masa penantian jadinya plat nomer motor, saya dengan lumayan sungguh-sungguh berdoa agar supaya tidak mendapat plat nomer dengan kombinasi huruf akhir YS, SY, YY, EX, U, US, Y, YN, X, YL dan NT.

Setelah beberapa minggu, plat nomer jadi dengan huruf akhir B.

Tuhan memang suka sekali bercanda.

25 July 2016

Sewaktu kelas XII SMA, di suatu hari pertama pelaksanaan ujian tengah semester eh atau ujian akhir semester, entahlah saya agak lupa. Singkatnya hari itu saya terlambat datang ke sekolah dan lupa kalau hari itu ujiannya menggunakan lembar jawaban komputer, sehingga saya tidak membawa pensil 2B yang diperlukan untuk mengisi lembar jawaban ujian. Sialnya saya baru menyadari hal itu setelah duduk di dalam ruang ujian.

Kondisi saat saya masuk kelas sudah cukup agak kacau, karena ujian sudah berlangsung lalu saya dan beberapa siswa lain yang juga terlambat masuk sehingga timbul sedikit kegaduhan dan mungkin memecah konsentrasi mereka. Saya jadi merasa tidak enak sih, jadi waktu sadar tidak membawa pensil saya tidak berusaha meminjam ke siswa yang sedang mengerjakan ujian, saya ga mau ganggu konsentrasi mereka. Saya coba meminjam ke siswa yang sama-sama terlambat, tapi mereka semua mengatakan cuma membawa 1 pensil saja.

Saya sempat terpikir mau pinjam ke guru penjaga, tapi kemudian membayangkan dimarahi lalu membuat seisi kelas jadi gaduh membuat saya mengurungkan niat. Mending kalau kemudian gurunya punya pensil, kalau tidak ya cuma bakal buang waktu, bagi saya ataupun siswa lain yang juga terganggu.

Akhirnya, entah paginya saya makan apa sampai bisa muncul keyakinan untuk mengisi lembar jawabannya menggunakan bolpen.

Logika saya begini : Saya sering mendengar bahwa kalau mengisi lembar jawaban komputer harus tebal dan benar-benar hitam, karena kalau tipis nanti tidak terbaca dan dianggap tidak ada jawabannya. Nah kalau pakai bolpen kan lebih hitam dari pensil, maka seharusnya saat diperiksa nanti akan tetap terbaca. Diperiksanya setahu saya menggunakan alat seperti scanner kan. Harusnya dengan bolpen akan lebih jelas, hanya saja saya jadi tidak bisa mengganti jawaban karena tidak bisa dihapus.

Sekilas tampak benar, maka selama waktu yang tersisa dengan yakin saya mengerjakan soal ujian sampai selesai menggunakan bolpen.

Ujian selesai. Waktunya jam istirahat. Lalu tidak lama kemudian nama saya dipanggil lewat speaker sekolah, diminta untuk segera datang ke ruang guru. Rupanya saya dipanggil gara-gara lembar jawaban komputer yang saya tulis pakai bolpen itu lalu saya diminta untuk menyalin jawaban saya sebelumnya ke lembar jawaban baru menggunakan pensil 2B yang mereka pinjami.

Guru saya ga marah sih, malah sepertinya mereka terlihat prihatin. Kok ya cantik-cantik tapi error. Yang setuju saya cantik cuma saya, tapi yang setuju saya error banyak hahahalupakan.

Jadi mungkin kamu ini seperti bolpen. Saya yakin bisa dengan bolpen tapi sepertinya keyakinan saya ini hanya berdasarkan pembenaran-pembenaran tak masuk akal.
Yasudah saya cari pensil 2B saja.
#apasih

Popular Posts