29 September 2013


Maret 2012

September 2013


26 September 2013


Iya. Seperti yang sudah bilang di entri yang lalu, bulan ini saya mau ikut tes ujian SIM.

Hari ini, pagi-pagi saya udah cantik, siap-siap berangkat ke Satpas Colombo yang terletak di Jalan Ikan Kerapu. Daerah Perak Barat Surabaya Utara. Lebih lengkapnya google aja deh. Dengan ditemani ibu saya, kita kemudian berangkat naik motor. Haha ini menggelikan, saya sudah pernah nulis sebelumnya, bagaimana bisa orang yang tidak punya SIM datang ke kantor polisi tempat pembuatan SIM dengan mengendarai motor sendiri. Ini pelanggaran terang-terangan di depan mata pihak yang berwajib tapi lalu diabaikan dengan terang-terangan pula. Ahh sudahlah, saya juga agak kurang paham.

Jadi sesudah sampai di tempat tujuan saya pun segera bermaksud untuk mendaftar, tapi rupanya saya harus ikut tes kesehatan dulu. Untuk ikut tes kesehatan siapkan dulu fotokopi KTP 1 lembar. Kemudian setelah tes, saya dikenakan biaya sebesar Rp. 20.000.- 

Setelah lulus tes kesehatan, saya disuruh ambil formulir di loket yang sudah disediakan. Setelah diisi, formulir dikumpulkan lagi ke loket yang untuk mengikuti ujian teori. Karena saya mau bikin SIM C baru(bukan perpanjangan), maka saya diminta untuk menyertakan KTP asli bersama dengan formulir yang tadi. Setelah itu saya disuruh ikut pengarahan mengenai peraturan lalu lintas dan materi ujian, kemudian di beri kartu tanda untuk mengikuti ujian teori. Tapi sebelum ikut ujian teori kita masih harus nunggu nama kita dipanggil dulu.


Kartu Tanda


Ga lama, nama saya dipanggil, maka masuklah saya ke ruangan ujian bersama beberapa orang yang lain. Disitu dikasih arahan bagaimana cara menjawab ujian. Setelah merasa cukup paham, saya dan yang lainnya juga mengerjakan soal ujian. Ujiannya menggunakan komputer dan terdiri dari 30 soal, untuk bisa lulus minimal kita harus dapat nilai 60 atau minimal mengerjakan 18 soal dengan benar. Begitu soal nomer 30 selesai dikerjakan, di layar komputer akan langsung muncul hasil nilainya kemudian otomatis di print. Mari kita simak hasil ujian saya.


So close..!!!


Hahhh..ini prett banget. Memalukan...padahal dulu saya ngehina-hina si Dewi gara-gara ga lulus ujian teori, sekarang malah saya sendiri.

Yasudah, tunggu kelanjutan entri ini 2 minggu lagi.


Berlanjut kesini.

14 March 2013


Pada kendaraan bermotor seperti sepeda motor, mobil, truk dan sebagainya, kalau saya tidak salah, selalu memiliki 2 macam lampu depan. Pertama lampu jarak dekat/lampu pendek/dim yang biasanya nyalanya mengarah ke bawah/jalan dan yang satunya adalah lampu jauh/lampu sorot/beam.

Saya rasa sebagian besar orang akan sepakat kalau saya bilang, penggunaan lampu sorot lebih nyaman daripada lampu untuk jarak dekat pada kendaraan yang kita kendarai. Alasannya tentu saja karena lampu sorot bersinar lebih terang dan memiliki jangkauan penerangan yang lebih luas, sehingga memungkinkan bisa melihat jalanan dengan jangkauan yang lebih luas pula.

Tapi pernah tidak kalian memikirkan bagaimana efeknya terhadap pengguna jalan yang lain, lebih khususnya pengendara motor yang datang dari arah berlawanan saat kalian berada di jalan dua arah. Percayalah itu menyebalkan. Bahkan kadang sangat menyebalkan...

Jalanan menuju ke rumah saya kebetulan agak gelap dan juga dua arah. Penerangan jalannya pada malam hari ada, tidak sampai terang benderang begitu sih, tapi cukuplah sebenarnya. Cuma saya suka sebel kalau harus berpapasan dengan kendaraan yang pakai lampu sorot. Sepeda motor aja sih ga terlalu bermasalah, tapi kalau sudah mobil apalagi truk.. jangan salahkan saya kalau nanti saya tabrak. Mereka ga tahu apa kalau lampu mereka itu bikin silau banget, saya kan jadi ga bisa lihat jalanan. Malah yang lebih nyebelin lagi udah pake lampu sorot untuk membutakan mata kita, mereka yang datang dari arah berlawanan itu jalannya ngambil ke tengah sampai makan bagian jalanan kita.



Orang dibikin ga bisa lihat jalanan, trus bagian jalan kita juga diambil, trus kita harus milih jalannya kayak gimana coba???

Yah, saya akhirnya cuma bisa pasrah dengan meminggirkan motor seminggir yang saya bisa, kadang-kadang karena iseng dan ga tahan, sambil merem juga. Lha wong merem  ga merem sama aja ga bisa lihat jalan. Ya toh?


15 February 2013


Setelah beberapa waktu berpisah dengan Blackberry pinjaman dari toko yang biasa saya pake buat motret-motret, iseng-iseng saya kembali menjajal kamera hape Nokia E71 yang diizinkan oleh kakak untuk saya pakai. Dan hasilnya..




Lumayan sih, tapi kalau menurut pendapat saya kameranya kurang tajam. Kebetulan foto yang di atas itu nangkap pemandangan jarak jauh dan mendung pula, jadi ga begitu kentara, coba kalau motret benda jarak dekat yang butuh detil hasilnya pasti jelek. Heran, padahal kalau dari segi pixelnya lebih gede yang Nokia ini daripada BB yang kemarin saya pake, tapi saya lebih suka hasil potretan kamera BB.


Popular Posts